π Episode 2: Surat yang Tak Pernah Sampai
Sore itu langit mendung. Ilham duduk di bangku dekat lapangan bola, matanya menatap rumah Pak Rafi di seberang. Rumah itu tampak tenang seperti biasa. Tapi bagi Ilham, rumah itu menyimpan misteri yang tak bisa ia abaikan.
Sejak kejadian roti pagi tadi, pikirannya terus bertanya-tanya:
Kenapa lelaki tua itu begitu baik⦠tapi hidup dalam kesusahan?
Sambil menunggu sore berlalu, Ilham membuka buku gambarnya. Ia menggambar wajah Pak Rafi. Garis-garis usia di wajahnya, senyum yang selalu tenang, dan mata yang menyimpan banyak cerita.
Saat itulah, ia melihat sesuatu.
Pak Rafi keluar rumah, membawa seikat surat tua dan sebuah bunga kecil. Ia berjalan perlahan menuju kantor pos tua yang jarang digunakan orang lagi. Ilham, yang penasaran, mengikuti dari kejauhan.
Pak Rafi menyerahkan surat itu ke petugas. Tapi si petugas menggeleng.
βPak Rafi... surat ini sudah dikembalikan tiga kali. Alamatnya nggak pernah ditemukan.β
Pak Rafi menatap surat itu, lalu tersenyum. βKalau begitu, simpan saja. Mungkin suatu hari dia datang sendiri mencarinya.β
Lalu ia pergi, tanpa rasa kecewa. Tanpa marah. Seolah menerima bahwa beberapa pesan dalam hidup memang tak harus sampai⦠tapi tetap perlu ditulis.
Ilham mendekati petugas pos setelah Pak Rafi pergi.
βPakβ¦ surat itu untuk siapa?β
Petugas itu ragu sejenak, lalu berkata,
βNamanya Zahra. Entah siapa diaβ¦ Tapi sejak bertahun-tahun lalu, Pak Rafi selalu mengirim surat ke nama itu. Tapi selalu kembali.β
Ilham terdiam.
Siapa Zahra?
Kenapa Pak Rafi tetap mengirim surat yang tak pernah sampai?
Malamnya, Ilham menulis di buku hariannya:
"Pak Rafi bukan orang biasa. Dia menyimpan cerita. Dan aku akan jadi orang yang menemukannya."
Ilham tak tahu... bahwa surat-surat itu adalah bagian dari rahasia besar yang menyangkut perang, kehilangan, dan sebuah janji yang belum terpenuhi.