📘 Episode 1: Lelaki Tua dan Roti yang Jatuh
Pagi itu dingin dan berkabut. Warung-warung mulai buka, anak-anak berlari ke sekolah, dan ibu-ibu sibuk menawar harga sayur di pasar. Tapi di sudut paling sepi kota, seorang lelaki tua menyapu halaman rumah kecilnya dengan sapu lidi yang sudah pendek sebelah.
Namanya Pak Rafi.
Pak Rafi tak punya banyak. Baju kumal, sepatu yang solnya sudah bolong, dan rumah kayu reyot yang terlihat seperti akan ambruk sekali dihantam angin besar. Namun, setiap pagi ia selalu tersenyum, seolah-olah hidup ini memberi lebih dari cukup.
Hari itu, di depan toko roti, seorang anak kecil menjatuhkan roti isi ke tanah.
“Aduh!” Anak itu memungut roti kotor, lalu hampir menangis.
Pak Rafi melihatnya dari seberang jalan. Ia menyebrang pelan-pelan dan berkata, “Kalau roti itu jatuh, mungkin ia ingin diganti dengan yang lebih hangat.”
Anak itu bingung. Lalu Pak Rafi masuk ke toko, membeli roti yang sama, dan memberikannya sambil tersenyum.
“Aku… aku belum bayar,” kata anak itu.
“Kalau begitu,” jawab Pak Rafi, “bayar dengan satu janji: berbaik hatilah pada seseorang lain hari ini.”
Anak itu mengangguk dan berlari sambil tersenyum lebar. Tak tahu bahwa lelaki tua itu—yang dianggap tak punya apa-apa—baru saja memberikan roti terakhir yang ia beli dengan uang sisa mingguannya.
Yang menyaksikan kejadian itu hanyalah seorang bocah lain bernama Ilham. Seorang anak yang sering duduk sendiri di kelas, suka menggambar, dan diam-diam memperhatikan Pak Rafi setiap hari.
Dan hari itu… Ilham mulai curiga.
“Kenapa orang miskin seperti dia beli roti untuk orang lain?”
“Siapa sebenarnya Pak Rafi?”
Ilham tidak tahu… bahwa ia sedang membuka pintu ke dalam sebuah rahasia yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.